February 26, 2024
Global Firepower: Militer RI Terkuat se-ASEAN atau Salah Index ?

Global Firepower: Militer RI Terkuat se-ASEAN atau Salah Index ?

Indonesia menempati urutan pertama dalam hal kekuatan militer di Asia Tenggara versi Global Firepower

 

Oleh : Imam Ahmad Bashori
Editor: Moh Ardi

 

Situs pemeringkat militer dunia Global Firepower menempatkan Indonesia sebagai negara dengan militer terkuat se-ASEAN.

Wakil Ketua DPR Fraksi Gerindra sebut hal ini bukti Prabowo all out bekerja.

Indonesia menempati urutan pertama dalam hal kekuatan militer di Asia Tenggara versi Global Firepower.

Ranking kekuatan militer di Asia Tenggara ini dirilis oleh Global Firepower (GFP) dengan tajuk ‘Southeast Asian Military Powers Ranked (2021)’ seperti dilihat Rabu (13/10) malam. Global Firepower merupakan situs pemeringkat militer dunia.

Kekuatan militer Vietnam menempati urutan kedua terbaik di ASEAN. Kemudian, kekuatan militer Thailand berada di urutan ke-3, Myanmar di posisi ke-4, Singapura berada di peringkat ke-5, Malaysia berada di peringat ke-6, Filipina berada diperingkat ke-7, Kamboja berada diperingkat ke-8, dan Laos dengan skor di urutan ke-9.

Wakil Ketua DPR puji Prabowo
Wakil Ketua DPR Fraksi Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan prestasi tersebut patut diapresiasi dan bukti bahwa Prabowo Subianto all out bekerja memperkuat pertahanan Indonesia.

“Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan di bawah Prabowo Subianto di saat yang sama juga terus melakukan upaya modernisasi alutsista, juga berupaya memperbesar dan memperkuat TNI melalui pembentukan komponen cadangan TNI yang ditetapkan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu,” kata Dasco dalam keterangannya, Kamis (14/10).

Kekuatan militer Indonesia memperoleh skor sebesar 0,2684 poin dari Global Firepower. Untuk mengisyaratkan makin tinggi tingkatan militer suatu negara, maka skor power indeks negara tersebut semakin kecil, begitu juga sebaliknya.

Lebih dari 50 indikator menjadi faktor penilaian Global Firepower untuk menghitung skor power indeks tiap negara. Negara-negara kecil yang memiliki kelebihan dalam perhitungan di beberapa indikator menjadi keunggulan mereka untuk bersaing dengan negara-negara yang lebih maju.

Sebagai catatan, lanjut Dasco, Prabowo baru saja membawa pulang teknologi kapal perang canggih jenis frigate tipe arrowhead dari Inggris yang dapat memperkuat Indonesia dalam menghadapi ancaman yang terus berkembang, termasuk di Laut Natuna Utara. Ini adalah jenis kapal perang ringan dengan kecepatan tinggi dan kemampuan manuver yang dilengkapi teknologi militer canggih terkini.

Dasco juga menyebut Presiden Jokowi baru saja menetapkan 3.103 orang komponen cadangan TNI yang bisa dimobilisasi untuk memperbesar dan memperkuat kekuatan TNI saat negara dalam keadaan darurat militer atau dalam bencana.

“Dengan adanya komcad memungkinkan penghematan anggaran untuk perkuat pertahanan. Kekuatan TNI dapat bertambah secara personel meski tanpa menambah jumlah TNI aktif”, kata Dasco.

 

140 negara

Saat ini ada 140 negara yang dipertimbangkan untuk tinjauan pertahanan tahunan Global Firepower (GFP) (yang saat ini mencakup tahun 2021).

Setiap negara dievaluasi berdasarkan banyak faktor yang terkait dengan kampanye militer ofensif atau defensif yang berkepanjangan.

Kategori ditimbang dan diproses melalui formula internal global fire power untuk menghasilkan peringkat ‘PwrIndx’ yang digunakan untuk menyusun daftar GFP yang telah diselesaikan.

Menghitung indeks

Kekuatan militer dimulai dengan orang-orang dan peralatan yang digunakan untuk melakukan perang: senjata, tank, kapal, pesawat terbang, dan alat-alat pendukung seperti sistem komunikasi yang memungkinkan satu kelompok memaksakan kehendaknya pada yang lain atau untuk mencegah hasil seperti itu dari terjadi. Elemen kunci lainnya adalah kemampuan militer untuk melakukan operasi: berapa banyak alat yang tepat—manusia, tank, pesawat, atau kapal—yang dimilikinya.

Negara tersebut mungkin memiliki alat yang tepat dan tahu bagaimana menggunakannya secara efektif tetapi tidak memiliki cukup untuk menang.

Oleh karena itu, sangat rumit untuk menghitung indeks kekuatan militer. Salah satu indeks kekuatan militer yang paling banyak digunakan adalah Global Firepower Index.

 

Pemengaruh indeks peringkat akhir militer:

• Pemeringkatan tidak hanya berfokus pada total senjata yang tersedia untuk satu negara tetapi lebih berfokus pada Keragaman senjata dalam jumlah total untuk memberikan keseimbangan yang lebih baik dari daya tembak yang tersedia (yaitu menerjunkan 100 tidak berlari sama dengan strategi dan taktis dari menerjunkan 10 kapal induk).
• Cadangan tidak perlu diperhitungkan tetapi diakui/diduga tenaga nuklir mendapat bonus.
• Faktor geografis, fleksibilitas logistik, sumber daya alam dan industri lokal mempengaruhi peringkat akhir.
• Tenaga kerja yang tersedia merupakan pertimbangan utama; negara-negara dengan populasi besar cenderung peringkat lebih tinggi.
• Negara-negara yang terkurung daratan tidak dihukum karena kekurangan angkatan laut; kekuatan angkatan laut dihukum karena kurangnya keragaman dalam aset yang tersedia.
• Sekutu NATO menerima sedikit bonus karena pembagian sumber daya secara teoritis.
• Kepemimpinan politik/militer saat ini tidak diperhitungkan.