February 27, 2024
Derita Desa Wotansari: Terendam Banjir, Bantuan-pun Tak Kunjung Tiba

Derita Desa Wotansari: Terendam Banjir, Bantuan-pun Tak Kunjung Tiba

Sedikitmya ada 175 rumah warga, begitu pula lahan persawahan seluas 51 Ha, kemudian jalan yang tergenang air sepanjang 750 Meter dan juga mengenangi jalan lingkungan sepanjang 1080 Meter

 

Reporter Arto
Editor Imam Achmad Bashori Al-Muhajir

 

Gresik – Akhir akhir ini cuaca ekstrim kembali melanda disejumlah wilayah di Indonesia, bahkan wilayah Jawa timur dan sekitarmya, khususnya wilayah Gresik selatan.

Banjir luapan kali lamong ini adalah banjir tahunan dikala musim penghujan datang tiba.

 

Luapan hulu – hilir

Saat ini, kembali banjir luapan kali lamong  melanda,  dari hulu ke hilir, mulai diwilayah Balongpanggang, melalui Benjeng berakhir ke wilayah Cerme.

 

Lahan pertanian, pemukiman, infrastruktur – fasilitas umum

Besaran rupaih tak terhitung  akibat diterjang sang maha bencana banjir, mulai lahan pertanian, pemukiman, infrastruktur dan fasilitas umum menjadi langganan amukan kali lamong belom lagi petani gagal panen.

 

Prihatin selalu terendam banjir

Simak penuturan kepala desa Hariono SP yang satu ini, mengungkapkan perasaan sedih dan prihatin ketika desanya selalu terendam banjir

“Bahkan baru sepuluh hari lalu banjir usai merendam desa kami,  kini Banjir kembali menyapu desa kami, tuturnya.

Dia menceritakan, banjir Pada Jum’at (5/11) pukul 01:00 dini hari,  yang lalu, desa Wotansari alami banjir, tercatat ketinggian genangan air  mencapai 80 Cm.

 

175 rumah, 51 Hektar persawahan, 750 meter jalan tergenang, 1080 meter jalan lingkungan

Sedikitmya ada 175 rumah warga, begitu pula lahan persawahan seluas 51 Ha, kemudian jalan yang tergenang air sepanjang 750 Meter dan juga mengenangi jalan lingkungan sepanjang 1080 Meter

Tak heran jika warga saat ini, mengeluh akibat banjir, terlebih bantuan dari pemerintah daerah bagi warga wotansari belum tersentuh.

Ditambah lagi derita kembali dirasakan warga, banjir saat ini telah merendam desa Wotansari.

 

60 cm -1 meter

Sejumlah rumah warga, jalan poros desa, jalan lingkungan, fasum juga lahan pertanian terkini dilaporkan terendam genangan air dengan ketinggian 60 cm -1 Meter, Senen (15/11) pukul 06:00 WIB.

Musim tanam  harus merugi

Terlebih lagi petani diwaktu musim tanam ke-3  harus merugi, tatkalah mereka sedang tanam padi dua tiga hari terendam banjir, para petani lambat menuai panen raya,

“Ini dampak  air bah luapan kali lamong, dengan ketinggian air selutut orang dewasa”, katanya sembari menginformasikan ke awak media kontroversi.or.id update banjir terkini pada pukul 16:00 WIB.

 

Bantuan pemerintah segera disalurkan

Hariono Berharap bantuan pemerintah kepada warga desa Wotansari segera disalurkan.

“Disamping meringankan derita warga, juga bisa membantu kebutuhan sehari hari warga, ungkapnya dengan nada lelah usai berjibaku tangani banjir bersama Camat, perangkat desa serta warga setempat”, tegasnya.

 

Program yang dicanangkan pemerintah belum terlaksana

Hariono juga berempati bantu warga salurkan makanan dan minuman serta kebutuhan lainnya ke sejumlah warga yang terendam.banjir,

Disisi lain Hariono dalam curhatannya, menuturkan,  “program penanganan kali lamong sebenarnya sudah dicanangkan pemerintah terdahulu , namun belum sempat terlaksana”.

 

Belum sepenuhnya

“Alhamdulillah di Pemeritahan Gus Yani Bu Min
di akhir tahun ini, sudah dijalankan normalisasi, meski belum bisa mengatasi banjir sepenuhnya”, akunya.

 

Teratasi bila lahan dibebaskan

Kata Hariono, banjir bisa teratasi kalau tanah tanah disekitar bantaran kali lamong dibebaskan terlebih dulu,

Pemerintah tetap bekerjasama dengan pihak bengawan solo membuat tanggul di bibir daripada sungai kali lamong.

 

Tanggul 4 meter

Sedangkan kebutuhan untuk membuat tanggul sekitar 4 Meter hingga 6 Meter, baru kali lamong tidak bisa meluap ke pemukiman atau warga sekitar yang berada di bantaran kali lamong.

Sekali lagi Hariono memohon kepada pemerintah dengan sangat, secepatnya mengatasi kali lamong ini.

Karena,  kerugian yang dialami warga dibantaran kali lamong, bukan dari harta benda melainkan persawahan, pertanian dan perkebunan .

 

Kerugian dan keterlambatan panen

Ungkapan Hariono ini amat memiluhkan, melihat para petani baru tanam satu minggu diterjang banjir,  akhirnya petani rugi yang luar biasa, lalu mengalami keterlambatan panen raya khususnya tanaman padi.

 

Bulan 10 dan bulan 12

Ia berpesan, untuk tahun depan sebaiknya pengerjaaan normalisasi jangan menunggu bulan 10 dan bulan 12, karena dibulan itu tiingginya curah hujan.

Bulan 7 dan 9

“Sementara untuk pembebasan lahan tanggul dibibir kali lamong diupayakan bulan 7 dan 9, sebelum musim penghujan tiba”,  tuturnya.

 

Belum efisien

Seperti yang sedang dilakukan saar ini, diterjunkan sejumlah alat berat eksavator di tiap bibir kali lamong,

“Saya kira belum efisien, satu hari kerja dua hari diterjang banjir, tidak begitu optimal, untuk menangani normalisasi ini”,  terang Hariono
dalam curhatan melalui voice mail whatsapp pribadinya.

Terlebih Hariono mengucapkan terimakasih kepada Bupati Gresik Gus Yani dan Wakil Bupati Bu Min , semoga perjuangan ini membuahkan hasil dan bermanfaat bagi warga Gresik selatan, utamanya yang dilalui sungai Kali Lamong

“Semoga wabah bencana banjir ini segera tuntas dan warga bisa hidup dengan tenang seperti semula”, tutupnya dengan penuh harap.