February 26, 2024
Puntung Rokok, Bermanfaat ataukah Berbahaya ?

Puntung Rokok, Bermanfaat ataukah Berbahaya ?

Puntung rokok terdiri dari ribuan serat selulosa asetat, yang meskipun dapat terurai secara biologis, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai . Serat selulosa asetat, seperti mikroplastik lainnya, juga merupakan polutan umum yang ditemukan di ekosistem, bahkan terakumulasi di dasar laut dalam

 

Filter rokok bekas juga mengandung ribuan bahan kimia salah satunya dikenal sebagai karsinogen, senyawa penyebab kanker dan dapat membunuh tanaman, serangga, tikus, jamur, dan makhluk hidup lainnya

Puntung Rokok Miliki Manfaat untuk Tanaman

Kementerian Pertanian RI menyebutkan telah melakukan penelitian bahwa puntung rokok jika masih ada sisa tembakaunya itu bisa dimanfaatkan sebagai pestisida untuk membasmi penyakit tanaman cabai.

Salah satu penyakit yang kerap menyerang pohon cabai adalah daunnya yang keriting, kuning, kurus dan rontok. Kondisi ini menyebabkan tanaman tidak bertumbuh lebat, produktivitas menurun dan bisa gagal panen. hama yang menyebabkan keriting daun, adalah hama yang tergolong pada jenis kutu-kutuan, yakni thrips, tungau, dan aphids.

Mengutip laman Kementerian Pertanian, hasil penelitian menunjukkan bahwa ternyata zat nikotin yang ada dalam tembakau bisa mengganggu sistem saraf pusat serangga hingga akhirnya mati. Pestisida dari tembakau ini ramah lingkungan karena nikotin lebih mudah terurai di alam sehingga tidak merusak lingkungan.

Cara membuat pestisida dari limbah rokok ini cukup mudah, kumpulkan sisa-sisa tembakau dari puntung rokok, kemudian rendam dalam air kemudian airnya disaring. Air rendaman tembakau ini bisa langsung diaplikasikan dengan cara menyemprotkan ke daun cabai yang terserang hama.

Untuk luasan tanaman yang lebih besar, ada beberapa cara yang harus diikuti agar pengendalian hama lebih efektif.

Bahannya adalah daun tembakau dari puntung rokok kurang lebih 0.25 kilogram, belerang kurang lebih 3 ons, abu dapur/abu gosok kurang lebih 2 kg, air seckupunya.

Cara pebuatannya, pertama rendam semua bahan tadi ke dalam air selama kurang lebih 4-5 hari. Kemudian saring air rendaman tadi menggunakan saringan halus, dan larutan pun siap digunakan.

Cara mengaplikasikannya adalah semprtokan larutan air rendaman tembakau tadi secara merata pada daun cabe, angar mendapatkan hasil maksimal. Jangan buang sisa air rendaman tembakau, karena dapat digunakan atau disiramkan pada tanaman dibawah tanaman cabe.

Pestisida tembakau ini bisa juga dicampur dengan bahan organik lainnya agar lebih efektif membasmi hama. Bahan campuran itu misalnya filtrat tembakau dengan filtrat daun paitan. Campuran filtrat tersebut dapat digunakan untuk membasmi hama walang sangit yang biasanya ditemukan pada tanaman padi.

 

Puntung Rokok Berbahaya Bagi Lingkungan

Sementara itu nationalgeographic.grid.id melaporkan, berkat gencarnya kampanye bebas plastik di seluruh dunia, orang mulai berbondong-bondong berhenti menggunakan sedotan plastik. Namun, jarang mendengar perlakuan yang sama tentang sampah plastik yang lain, yaitu puntung atau filter rokok.

Padahal, benda ini merupakan barang yang paling banyak mengotori planet Bumi. Setidaknya dua pertiga dari total 5,6 triliun batang rokok atau 4,5 triliun puntung rokok yang dihisap setiap tahun dibuang sembarangan.

Sejak tahun 1980-an, puntung rokok menyumbang 30% hingga 40% dari semua sampah yang ditemukan di tempat pembuangan sampah perkotaan.

Penelitian terbaru menemukan bahwa puntung rokok justru membutuhkan waktu yang lama untuk terurai dan apabila dibuang sembarangan akan merusak lingkungan hidup.

Puntung rokok terdiri dari ribuan serat selulosa asetat, yang meskipun dapat terurai secara biologis, membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terurai . Serat selulosa asetat, seperti mikroplastik lainnya, juga merupakan polutan umum yang ditemukan di ekosistem, bahkan terakumulasi di dasar laut dalam.

Filter rokok bekas juga mengandung ribuan bahan kimia yang dapat membunuh tanaman, serangga, tikus, jamur, dan makhluk hidup lainnya. Bahkan, beberapa bahan kimia dalam filter rokok bekas dikenal sebagai karsinogen, senyawa penyebab kanker.

Ada banyak laporan tentang anak kecil dan anjing peliharaan yang secara tidak sengaja menelan puntung rokok. Selain itu, puntung atau filter rokok bekas juga telah ditemukan dalam tubuh hewan liar, seperti burung laut dan kura-kura.

Menelan puntung rokok dapat menyebabkan muntah hingga kejang pada manusia. Lindi dari puntung rokok bisa beracun bagi organisme air seperti bakteri, krustasea, cacing, dan ikan.

Risiko yang Belum Diketahui

Pemahaman manusia akan bahaya puntung rokok yang dibuang sembarangan di taman-taman hingga ruang terbuka hijau lainnya masih minim, meskipun pemandangan tersebut sering kita lihat.

Ada laporan yang mengungkapkan bahwa beberapa burung menggunakan puntung rokok untuk melapisi sarang mereka. Hal ini sangat berbahaya karena pestisida dalam nikotin akan mengurangi jumlah parasit yang tinggal di permukaan tubuh inangnya (ektoparasit) karena parasit ini berguna bagi perkembangan anak burung. Selain itu, puntung rokok bisa menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang bagi hewan.

Habitat perkotaan memiliki risiko tinggi terpapar dari sampah puntung rokok. Berdasarkan survei yang dilakukan di tiga taman terbesar di Cambridge, Inggris, menemukan rata-rata 2,6 puntung rokok per meter persegi dan maksimum 126 puntung rokok per meter persegi di dekat bangku taman, meskipun tersedia asbak.

Pertanyaan selanjutnya adalah apa dampak puntung rokok yang dilemparkan ke tanah terhadap tanaman di taman?

Lalu nationalgeographic.grid.id melakukan percobaan dengan meletakkan puntung rokok ke pot berisi rumput atau daun semanggi untuk melihat pengaruhnya. Mereka menguji puntung baru dari rokok biasa serta puntung bekas (dari rokok yang sudah dibakar), serta meletakkan kayu kecil untuk melihat perbedaannya.

Mereka menemukan bahwa puntung rokok mengurangi tumbuhnya kecambah pada rumput dan semanggi hingga 25%. Selain itu, puntung rokok juga mengurangi jumlah biomassa akar semanggi hampir 60%.

Meskipun ini baru studi awal tentang batang rokok utuh dengan puntung rokok yang bisa mempengaruhi pertumbuhan tanaman, studi lain menemukan bahwa asap dapat mengancam hal yang sama pada tumbuhnya tanaman.

Bahkan, pada awal tahun 1900-an, Mabel Elizabeth Dibbel menyelesaikan tesis berjudul “Efek asap rokok pada bibit Vicia sativa”. Dibbel menemukan bahwa dengan meniupkan asap rokok ke bibit tanaman akan menghambat pertumbuhan dan merusak struktur sel.

 

Perlu penelitian lanjutan

Meski sudah ada kesadaran ilmiah tentang rokok dan tanaman selama lebih dari 100 tahun, isu ini tetap menjadi topik yang paling jarang diteliti.

Mengingat pentingnya tanaman sebagai penghasil utama makanan manusia dan berperan untuk membuat lingkungan lebih menyenangkan, perlu ada pengurangan terhadap sampah rokok.

Beberapa orang menyarankan untuk langsung melarang puntung rokok karenanya bahayanya bagi kesehatan manusia.

Saran lain lagi adalah memaksa produsen untuk menawarkan uang bagi perokok yang mengembalikan puntung rokok mereka.

Apapun solusinya, sangat jelas bahwa selama 39 tahun kejayaan rokok sebagai sampah nomor satu dunia harus segera berakhir.

Langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran bahwa puntung rokok merupakan sampah berbahaya bagi lingkungan dan harus dibuang dengan benar.

 

Sebagai Pestisida Alami

Praktek pemanfaatan puntung rokok Lingkungan Hidup Bogor

Puntung rokok adalah salah satu limbah dari produk rokok yang cenderung dipandang sebelah mata karena ukuran yang kecil sehingga seringkali dibuang di sembarang tempat dan menjadikan lingkungan tak bersih.

Sementara itu, apabila dilihat dari segi nilai manfaat, sampah puntung rokok ini sebenarnya memiliki potensi yang bisa diimplementasikan kepada masyarakat terutama petani. Hal ini berkaitan dengan perawatan tanaman yang harus diberikan pestisida atau pembasmi hama secara rutin.

Petani sering menggunakan pestisida kimia, namun penggunaan secara terus menerus dapat menimbulkan bahaya tersendiri. Selain tidak ramah lingkungan dan harga yang mahal, pestisida kimia dapat ikut membunuh musuh alami hama tanaman, seta dapat menyebabkan penumpukan residu kimia dalam hasil panen sehingga akan berbahaya bagi kesehatan.

Permasalahan ini menjadi peluang untuk memberdayakan limbah puntung rokok sebagai sarana yang murah dan dapat mengendalikan hama pada tanaman. Oleh karena itu, Lingkungan Hidup Bogor membuat kegiatan pembuatan pestisida alami dari sampah puntung rokok. Objek kegiatan tersebut yaitu berupa tanaman cabai dan bibit bunga matahari yang terserang hama dan penyakit.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu peluang besar membantu petani untuk menghemat biaya produksi sekaligus sebagai upaya mengurangi sampah di lingkungan sekitar kita, mengingat bahwa sampah puntung rokok ini sangat mudah didapatkan, dan penggunaaan pestisida alami ini bisa digunakan pada tanaman holtikultura maupun tanaman buah seperti apel dan lainnya,” ujar Yopin Lingkungan Hidup  Bogor. (Kamis,27/2/2020)

Yopin menerangkan cara penggunaannya yakni cairan puntung rokok dicampur dengan air biasa menggunakan perbandingan 1:2, kemudian pestisida limbah puntung rokok disemprotkan pada tanaman sekitar 3 kali seminggu atau sesuai dengan kebutuhan.

“Walaupun pestisida ini bersifat nabati, kita harus tetap membersihan hasil panen sayur maupun buah sama halnya dengan pestisida alami lainnya agar hasil panen tersebut bisa dikonsumsi dalam keadaan besih”, lanjut yopin.

Kelebihan penggunaan pestisida alami dari sampah puntung rokok ini antara lain mencegah kehadiran hama karena baunya yang menyengat, merusak syaraf hama, mengacaukan sistem hormon hama, mengendalikan pertumbuhan jamur dan bakteri, serta dapat menyebabkan gangguan metamorfosa dan gangguan bagi serangga.

“Limbah puntung rokok memiliki kandungan nikotin, fenol, dan eugenol yang masing-masing memiliki peran dalam mengendalikan hama pada tanaman. Nikotin bersifat racun bagi organisme, sedangkan berdasarkan penelitian eugenol dan fenol berperan efektif dalam mengendalikan patogen tanaman” tutup  Yopin.

 

Mengenal lebih dekat zat dalam puntung rokok

 

1. Fenol

Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil.

Fenol
Phenol2.svg
Phenol-2D-skeletal.png
Phenol-3D-balls.png
Phenol-3D-vdW.png
Phenol 2 grams.jpg
Nama
Nama IUPAC

Phenol
Nama lain

Asam karbolat, Benzenol, Asam fenilat, Hidroksibenzena, Asam fenat
Penanda
Model 3D (JSmol)
ChEBI
ChEMBL
ChemSpider
DrugBank
KEGG
PubChem CID
Nomor RTECS SJ3325000
UNII
Sifat
C6H6O
Massa molar 94,11 g·mol−1
Penampilan padatan kristal transparan
Densitas 1.07 g/cm3
Titik lebur 40,5 °C (104,9 °F; 313,6 K)
Titik didih 181,7 °C (359,1 °F; 454,8 K)
8.3 g/100 mL (20 °C)
Keasaman (pKa) 9.95 (di air),
29.1 (di asetonitril)[1]
λmaks 270.75 nm[2]
1.7 D
Bahaya
H301H311H314H331H341H373[3]
P261P280P301+310P305+351+338P310[3]
Titik nyala 79 °C
Senyawa terkait
Kecuali dinyatakan lain, data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25 °C [77 °F], 100 kPa).
Ya verifikasi (apa ini Ya ?)
Sangkalan dan referensi

Ikhtisar

Kata fenol berasal dari Fenil Alkohol (Phenyl Alcohol). Selain itu, nama fenol juga merujuk pada beberapa zat yang memiliki cincin aromatik yang berikatan dengan gugus hidroksil.

Karakteristik

Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 ml. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O yang dapat dilarutkan dalam air.Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan yang sama, alkohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan sistem aromatik, yang mendelokalisasi beban negatif melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya.[4]

Produksi

Fenol didapatkan melalui oksidasi sebagian pada benzena atau asam benzoat dengan proses Raschig, Fenol juga dapat diperoleh sebagai hasil dari oksidasi batu bara.

Penggunaan

Fenol dapat digunakan sebagai antiseptik seperti yang digunakan Sir Joseph Lister saat mempraktikkan pembedahan antiseptik. Fenol merupakan komponen utama pada anstiseptik dagang, triklorofenol atau dikenal sebagai TCP (trichlorophenol). Fenol juga merupakan bagian komposisi beberapa anestitika oral, misalnya semprotan kloraseptik.Fenol berfungsi dalam pembuatan obat-obatan (bagian dari produksi aspirin, pembasmi rumput liar, dan lainnya. Selain itu fenol juga berfungsi dalam sintesis senyawa aromatis yang terdapat dalam batu bara. Turunan senyawa fenol (fenolat) banyak terjadi secara alami sebagai flavonoid alkaloid dan senyawa fenolat yang lain. Contoh dari senyawa fenol adalah eugenol yang merupakan minyak pada cengkih

Fenol yang terkonsentrasi dapat mengakibatkan pembakaran kimiawi pada kulit yang terbuka.

Penyuntikan fenol juga pernah digunakan pada eksekusi mati. Penyuntikan ini sering digunakan pada masa NaziPerang Dunia II. Suntikan fenol diberikan pada ribuan orang di kamp-kamp konsentrasi, terutama di Auschwitz-Birkenau. Penyuntikan ini dilakukan oleh dokter ke vena (intravena) di lengan dan jantung. Penyuntikan ke jantung dapat mengakibatkan kematian langsung.[5]

 

2. Eugenol

Eugenol (C10H12O2), merupakan turunan guaiakol yang mendapat tambahan rantai alil, dikenal dengan nama IUPAC 2-metoksi-4-(2-propenil)fenol. Ia dapat dikelompokkan dalam keluarga alilbenzena dari senyawa-senyawa fenol. Warnanya bening hingga kuning pucat, kental seperti minyak . Sumber alaminya dari minyak cengkih. Terdapat pula pada palakulit manis, dan salam. Eugenol sedikit larut dalam air namun mudah larut pada pelarut organik. Aromanya menyegarkan dan pedas seperti bunga cengkih kering, sehingga sering menjadi komponen untuk menyegarkan mulut.

Eugenol

Penggunaan

Metil eugenol

Senyawa ini dipakai dalam industri parfumpenyedapminyak atsiri, dan farmasi sebagai penyuci hama dan pembius lokal. Ia juga mengjadi komponen utama dalam rokok kretek. Dalam industri, eugenol dapat dipakai untuk membuat vanilin.

Campuran eugenol dengan seng oksida (ZnO) dipakai dalam kedokteran gigi untuk aplikasi restorasi (prostodontika).

Turunan-turunan eugenol dimanfaatkan dalam industri parfum dan penyedap pula.

Metil eugenol digunakan sebagai atraktanLalat buah jantan terpikat oleh metil eugenol karena senyawa ini adalah feromon seks yang dikeluarkan oleh betina.

Selain itu, beberapa bunga juga melepaskan metil eugenol ke udara untuk memikat lalat buah menghampirinya dan membantu penyerbukan.

Turunan lainnya dipakai sebagai penyerap UV, analgesika, biosida, dan antiseptika. Pemanfaatan lainnya adalah sebagai stabilisator dan antioksidan dalam pembuatan plastik dan karet.

Lalat buah Bactrocera jantan terpikat ke bunga Anthurium.

Kontraindikasi

Overdosis eugenol menyebabkan gangguan yang disebabkan oleh darah seperti diarenauseaketidaksadaranpusing, atau meningkatnya denyut jantung. Terdapat alergi yang disebabkan oleh eugenol. 

3. Selulosa asetat

Selulosa asetat adalah suatu senyawa kimia buatan yang digunakan dalam film fotografi.Secara kimia, selulosa asetat adalah ester dari asam asetat dan selulosa.

Senyawa ini pertama kali dibuat pada tahun 1865. Selain pada film fotografi, senyawa ini juga digunakan sebagai komponen dalam bahan perekat, serta sebagai serat sintetik.

Selulosa asetat

Film fotografi yang terbuat dari asam asetat pertama kali diperkenalkan pada 1934, menggantikan selulosa nitrat yang sebelumnya menjadi standar.

Kelemahan film selulosa nitrat adalah senyawa tersebut tidak stabil dan mudah sekali terbakar. Bila terjadi kontak dengan oksigen, film selulosa asetat menjadi rusak dan tidak dapat digunakan lagi, serta melepaskan asam asetat.

Fenomena ini disebut “sindrom cuka”, karena asam asetat merupakan bahan utama dalam cuka.

Sejak dekade 1980-an, film dari poliester (sering juga disebut dengan nama dagang dari Kodak Estar) mulai menggantikan film dari selulosa asetat, terutama untuk tujuan pengarsipan.

Sebelum munculnya poliester, film selulosa asetat juga dipakai pada pita magnetik. Sekarang selulosa asetat masih digunakan dalam beberapa hal, misalnya negatif dari gambar bergerak

2 thoughts on “Puntung Rokok, Bermanfaat ataukah Berbahaya ?

  1. Hi there! I realize this is somewhat off-topic however I needed
    to ask.

    .Does building a well-established website such as yours take a lot of work?

    I’m completely new to operating a blog however I do write in my diary every day.

    I’d like to start a blog so I can easily share my personal experience and views online.
    Please let me know if you have any ideas or tips

Comments are closed.