February 27, 2024
Rujukan Wirausaha Untuk Menjadi Milyader

Rujukan Wirausaha Untuk Menjadi Milyader

Beberapa waktu belakangan, pemerintah menganjurkan pada masyarakat untuk coba memulai profesi sebagai wirausaha. Hal ini dilakukan bukannya tanpa alasan, wirausaha adalah salah satu faktor yang mampu mendorong perekonomian negara, terutama di masa new normal seperti sekarang ini.

Oleh Imam S Ahmad Bashori Al-Muhajir
Editor Moh Ardi

 

Bukan hanya sebagai pendorong perekonomian negara, wirausaha adalah faktor yang membantu menurunkan angka pengangguran dengan membuka peluang kerja dari sektor UMKM. Lantaran itulah banyak jalan dibuka oleh pemerintah untuk membantu perkembangan dan kemandirian wirausaha, antara lain dengan mempermudah pembuatan surat izin usaha, pemberian pinjaman modal untuk usaha kecil dan menengah, sampai pada membantu pemasaran produknya.

Secara sederhana, pengertian atau definisi wirausaha adalah suatu proses melakukan identifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan yang berujung dengan dibentuknya sebuah usaha.

 

Pergeseran rasional 

Kewirausahaan (entrepreneurship) di masa lalu sering kali diyakini sebagai bakat lahirlah talenta yang kemudian terasah dan terbentuk melalui pengalaman hidup di lapangan pekerjaan. Kini, paradigma klasik tersebut telah berubah, bergeser ke arah yang lebih rasional dan ilmiah.

 

Menjadi disiplin keilmuan

Kewirausahaan telah menjadi salah satu disiplin keilmuan yang mempelajari nilai, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang bisnis dengan berbagai risiko yang mungkin akan dihadapinya.

Karena itu kewirausahaan dapat dipelajari secara sistematis berdasarkan unsur-unsur penting dalam manajemen bisnis oleh siapa pun untuk membentuk etos kerja dunia usaha.

Fenomena dunia kewirausahaan yang diuraikan dan dibahas secara mendalam dalam tulisan ini, meliputi :

  1. Peran motivasi dalam usaha,
  2. Cara melihat masa depan (visioner),
  3. Kepemimpinan dalam usaha,
  4. Nilai penting pembentukan dan
  5. Pemeliharaan jaringan bisnis yang luas, serta
  6. Sikap (etos kerja) yang harus dimiliki seorang wirausahawan untuk menghadapi semua perubahan dan tantangan.

 

Disarikan langsung dari pengalaman praktis lapangan dan penuturan (tips dan kiat bisnis) dari mereka yang sukses dalam dunia usaha.

Dengan penyajian yang praktis-keilmuan, menjadikan tulisan ini sebagai sumber bacaan yang sangat penting bagi mereka yang tertarik dan yang sedang menekuni dunia usaha (kewirausahaan)

 

Rujukan pengusaha menjadi milyader

Ketika memutuskan memulai bisnis sendiri, tersedia cukup banyak rujukan yang bisa membantu calon pengusaha menjadi milyader di masa muda. Sayangnya, banyak sumber rujukan yang justru biasa-biasa saja, menyesatkan, bahkan tak berguna sama sekali.

Memiliki akses ke sumber rujukan yang bisa membimbing calon pengusaha baru merupakan titik kritis untuk mencapai kesuksesan jangka panjang.

Bahkan di tengah biaya akses internet yang semakin mahal, Anda membutuhkan buku bacaan yang tepat agar waktu tidak terbuang percuma.

 

Kilas balik

Kewirausahaan (bahasa Inggris: entrepreneurship) adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.

Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu.

Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian.

 

Kewirausahaan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain.

Kewirausahaan juga dapat dimaknai sebagai proses tindakan seorang wirausahawan sebagai orang yang selalu mencari sesuatu yang baru dan mengeksploitasi ide-ide tersebut menjadi peluang yang menguntungkan dengan menerima risiko dan ketidakpastian dengan perusahaan

 

Kewirausahaan memiliki arti yang berbeda-beda antar para ahli atau sumber acuan karena berbeda-beda titik berat dan penekanannya.

 

Richard Cantillon (1775) mendefinisikan kewirausahaan sebagai usaha investasi dengan keuntungan yang didapat di masa depan.

 

Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi risiko atau ketidakpastian.

 

Menurut Penrose (1963), wirausahawan merupakan seseorang yang didorong oleh keserbagunaan, ambisi, kecerdasan, dan kemampuan untuk mengumpulkan mengelompokkan, dan menggunakan informasi untuk mengolah sumber daya dan produk atau jasa.

Menurut Harvey Leibenstein (1968, 1979) kewirausahaan sebagai usaha pengisi jurang di saat pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.

Menurut Peter Drucker, kewirausahaan adalah disiplin ilmu dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Orang yang melakukan kegiatan kewirausahaan disebut wirausahawan atau wiraswasta. Sikap mental wiraswasta dapat dibagi menjadi komponen kogintif, komponen afektif, dan komponen kognatif.

 

Tujuan Wirausaha

Tujuan utama dari wirausaha tentu saja adalah untuk mendapatkan keuntungan. Namun, ternyata masih ada beberapa tujuan lainnya, antara lain:

  • Untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai lebih tinggi dibandingkan sebelum diolah.
  • Untuk mendorong semangat atau mensosialisasikan pengaruh wirausaha kepada orang lain.
  • Untuk membantu membangun karakteristik wirausaha yang baik dan kompeten.
  • Untuk menghasilkan banyak wirausaha yang berkualitas.
  • Untuk membantu membangun kesejahteraan masyarakat.

Perbedaan wirausaha dan wiraswasta  – Profesi pekerjaan yang dilirik saat ini tidak melulu menjadi pegawai negeri. Salah satunya profesi menjadi seorang pengusaha. Tentu saja kamu akan mendapatkan banyak keuntungan saat menjalankan usaha bisnis ini. 

Buat kamu yang bingung ingin menjadi apa di masa yang akan datang, menjadi seorang wirausaha adalah jawaban yang tepat dan mulia. Kenapa mulia? Karena seorang wirausaha jika sukses, bisa memberikan lapangan kerja bagi orang lain.

Etimologi

Kewirausahaan berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti pejuang, pahlawan, manusia unggul, teladan, berbudi luhur, gagah berani, laki-laki, dan berwatak agung. Usaha adalah aktivitas yang mengerahkan tenaga dan pikiran untuk mencapai tujuan tertentu.

Secara harfiah, wirausaha adalah pejuang atau pahlawan yang berbuat sesuatu. Namun, para ahli memiliki pengertian yang berbeda-beda tentang wirausaha.

Seorang yang melakukan kegiatan wirausaha kemudian disebut sebagai wirausahawan (entepreneur).

Seorang wirausahawan juga biasa disebut dengan wiraswasta yang berarti seseorang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.

 

Sejarah kewirausahaan

Istilah entrepreneur dalam bahasa Inggris diserap dari bahasa Prancis. Kata tersebut pertama kali muncul dalam kamus Perancis berjudul Dictionnaire Universel de Commerce yang disusun oleh Jacques des Bruslons dan diterbitkan pada tahun 1723.

Kata entrepreneur dalam Bahasa Prancis berasal dari kata entre yang berarti antara dan prendre yang berarti mengambil.

Saat itu, istilah ini digunakan pada orang-orang yang membawa sesuatu di dalam perjalanan mereka melewati sesuatu yang berisiko. Pada jaman tersebut istilah adventurer “petualang” digunakan untuk merujuk pada hal yang sama.

Studi tentang kewirausahaan dimulai sejak akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 oleh ekonom Irlandia-Prancis Richard Cantillon.

Studi ini merupakan salah satu dasar ekonomi klasik.

Cantillon mendefinisikan istilah wirausaha pertama kali dalam karyanya Essai sur la Nature du Commerce en Général yang terbit tahun 1755.

Sebuah buku yang dianggap oleh William Stanley Jevons sebagai “tempat lahir ekonomi politik”.

Di luar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad 16, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20.

Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenal dengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer.

Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an di beberapa negara seperti Eropa, Amerika, dan Kanada,

Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan atau manajemen usaha kecil.[butuh rujukan] Pada tahun 1980-an, hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan.

DI Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja.

Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan di segala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang.

 

Proses Kewirausahaan

Carol Moore yang mempelajari tentang bagaimana perilaku wirausahawan membuat suatu model mengenai bagaimana proses berpikir mereka. Studi ini kemudian dikembangkan oleh Bygrave dan dikenal sebagai proses kewirausahaan.

Proses kewirausahaan tersusun atas tiga fase, yakni:

  1. Innovation,
  2. Implementation, dan
  3. Growth.
  4. Faktor dan lingkungan yang saling mempengaruhi setiap langkahnya.
  5. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain: faktor pribadi, dan faktor lingkungan.

 

Innovation

Pada fase ini wirausahawan akan mencari ide dan menyeleksi ide. Dalam fase ini diharapkan oleh wirausahawan adalah menemukan ide sebanyak mungkin dan membuat alat untuk menyaring ide-ide tersebut.

Faktor yang mempengaruhi hal ini adalah faktor pribadi dan faktor lingkungan. Faktor pribadi yang muncul antara lain:

  • Kreativitas,

Kreativitas merupakan sifat yang dekat dengan penemuan. Besar ide inovatif yang dihasilkan oleh wirausahawan dapat dilihat dari seberapa kreatif wirausahawan tersebut.

  • Toleransi terhadap ide yang ambigu, dan

Toleransi terhadap ide yang ambigu mempengaruhi bagaimana wirausahawan menyaring ide.

  • Aktif mencari informasi.

Alat yang bisa menyaring ide-ide tersebut, dibutuhkan kemampuan mencari informasi yang aktif. Semakin banyak infomasi yang didapat, semakin baik wirausahawan dalam menyaring ide mereka.

 

Di sisi lain, lingkungan juga dapat mempengaruhi fase ini. Wirausahawan bisa jadi mendasarkan inovasinya pada responnya terhadap lingkungan.

 

Drucker (dalam Moore, 1986) menyatakan bahwa terdapat tujuh tipe respon yang mendasari adanya inovasi, yakni:

  1. Kegagalan/ atau keberhasilan yang tiba-tiba dibandingkan kejadian biasa,
  2. Ketidakselarasan antara cara berpikir wirausahawan dengan lingkungannya,
  3. Kebutuhan atas cara yang lebih baik dalam mengerjakan sesuatu,
  4. Perubahan yang tiba-tiba di dunia industri atau pasar,
  5. Perubahan demografis,
  6. Perubahan persepsi, nilai, dan atau norma di lingkungan, atau
    pengembangan ilmu dan atau pengetahuan baru.
  7. Faktor pendorongan lain

 

Selain itu, motivasi wirauahawan juga didorong oleh bagaimana lingkungan memperlakukannya, seperti:

  1. Penghargaan,
  2. Keragaman pilihan profesi,
  3. Tekanan,
  4. Pengawasan,
  5. Situasi,
  6. Bantuan,
  7. Dan lain sebagainya.

 

Tingginya dukungan dan bantuan bagi wirausahawan mendorong tumbuhnya kreativitas yang berperan besar dalam fase awal kewirausahaan.

 

Implementation

Dalam fase ini, wirausahawan melakukan beberapa hal, yakni:

  1. Mengenali barang baru
  2. Mengenali metode produksi yang baru
  3. Membuka pasar baru
  4. Membuka sumber pasokan baru
  5. Reorganisasi industri

Fase ini ditentukan oleh komitmen wirausahawan. Faktor personal seperti sifat berani mengambil risiko dan tingkat kepuasan terhadap bagaimana ia bekerja.

Fase ini juga dipengaruhi oleh karakteristik fase sebelumnya, yaitu:

  1. Kesempurnaan ide,
  2. Bentuk organisasi usaha, dan
  3. Rekan kerja mempengaruhi keberhasilan wirausahawan dalam mengimplementasikan ide.
Ide yang masih baru dan belum pernah didengar akan lebih susah diimplementasikan dibandingkan ide yang familiar.

 

Selain itu, faktor lingkungan mempengaruhi bagaimana implementasi ini terjadi. Copper (dalam Moore, 1986) menyatakan bahwa:

  1. wirausaha akan lebih banyak muncul pada saat industri bertumbuh dengan cepat,
  2. Adanya kesempatan untuk segmentasi, dan
  3. modal investasi rendah.

 

Beberapa firma yang berada di daerah dengan tingkat wirausaha tinggi akan lebih mudah mendorong orang untuk meluncurkan ide bisnisnya.

 

Growth

Fase terakhir dari proses kewirausahaan adaah pengembangan. Pada fase ini wirausahawan dianggap telah berhasil membutuhkan kemampuan menejerial untuk bisa memandu pertumbuhan usaha.

Faktor personal yang mempengaruhi fase ini antara lain :

  1. Pendidikan
  2. Pengalaman dan
  3. Kemampuan manejerial.

 

Vesper (dalam Moore 1986) meyatakan bahwa semakin tinggi pengalaman yang dimiliki, semakin besar pula kemampuan wirausahawan dalam mengenali permasalahan awal dan menyelesaikannya sebelum masalah tersebut mempengaruhi jalannya usaha.

Selain itu, faktor lain seperti :

  1. Efektifitas,
  2. Struktur,
  3. Iklim, dan
  4. Respon lingkungan terhadap usaha mempengaruhi fase ini.

 

Ciri-ciri dan Sifat kewirausahaan

Untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan, maka setiap orang memerlukan ciri-ciri dan juga memiliki sifat-sifat dalam kewirausahaan. Ciri-ciri seorang wirausahawan adalah:

  1. Percaya diri
  2. Berorientasikan tugas dan hasil
  3. Berani mengambil risiko
  4. Kepemimpinan
  5. Keorisinilan
  6. Berorientasi ke masa depan
  7. Jujur dan tekun

 

Sifat-sifat seorang wirausahawan adalah:

  1. Memiliki sifat keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
  2. Selalu berusaha untuk berprestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan memiliki inisiatif.
  3. Memiliki kemampuan mengambil risiko dan suka pada tantangan.
  4. Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
  5. Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
  6. Memiliki persepsi dan cara pandang yang berorientasi pada masa depan.
  7. Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja keras.

 

Sikap wirausaha

 

Berani mengambil risiko

Frank Knight dan Peter Drucker menekankan

  1. Pengambilan risiko dalam kewirausahaan.
  2. Bersedia mempertaruhkan karier dan
  3. Keuangannya dan
  4. Mengambil risiko atas nama ide,
  5. Menghabiskan waktu serta modal untuk usaha yang hasilnya belum pasti.
Namun, pengusaha sering tidak percaya bahwa mereka telah mengambil risiko yang sangat besar karena mereka tidak menganggap tingkat ketidakpastian setinggi orang lain.

 

Nyaman dengan ketidakpastian

Sifat ini berada pada peringkat pertama menurut Khosla dan Gupta (2017).

Sifat ini merupakan sifat unik yang ditemukan di banyak wirausahawan, mengindikasikan tingginya toleransi terhadap perubahan situasi dan peristiwa yang berlangsung di sekitarnya.

Wirausahawan berpikir tenang di tengah iklim bisnis yang tidak tentu di saat yang lain berusaha mencari bantuan.

Tingkat toleransi yang tinggi mendukung wirausahawan dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian dalam menjalankan usaha.

Selain itu, sifat ini mendukung mereka dalam mengkalkulasi risiko dan kesempatan dalam situasi yang menekan.

Sifat ini tumbuh ketika wirausahawan menyadari bahwa risiko merupakan bagian yang tidak terpisah dari pembuatan keputusan.

 

Fokus tinggi

Sifat wirausahawan dalam menetapkan sasaran dan bersungguh-sungguh dalam mencapai hal tersebut merupakan hal yang dibutuhkan dalam seluruh proses wirausaha.

Dalam lingkungan yang dinamis, sifat ini membantu wirausahawan mengerjakan tugas dengan efektif.

Sifat ini juga mengindarkan wirausahawan dari pikiran yang bercabang, yang mana bisa membuat tujuan tidak terpenuhi.

 

Sensitif terhadap perubahan pasar

Wirausahawan selalu diharapkan untuk bisa memberikan apa yang diinginkan pasar pada saat yang tepat. Waktu berubah yang tidak tentu menjadi tantangan bagi pengusaha.

Khosla dan Gupta (2017) menyatakan bahwa sifat ini membantu wirausahawan dalam mengumpulkan informasi terfaktual dan menggunakannya untuk menyesuaikan diri.

 

Disiplin

Dalam melaksanakan kegiatannya, seorang wirausahawan harus memiliki kedisiplinan yang tinggi.

Kedisiplinan dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti:

  1. Ketepatan terhadap waktu,
  2. Kualitas pekerjaan,
  3. Sistem kerja dan sebagainya.
Kegigihan dalam menekuni sesuatu menjaga kualitas pekerjaan dan sistem kerja, sehingga kepercayaan pelanggan pada usaha tersebut muncul.

 

Jujur

Kejujuran merupakan landasan moral yang kadang-kadang dilupakan oleh seorang wirausahawan.

Kejujuran dalam berperilaku bersifat kompleks, antara lain:

  1. Kejujuran mengenai karakteristik produk (barang dan jasa) yang ditawarkan,
  2. Kejujuran mengenai promosi yang dilakukan,
  3. Kejujuran mengenai pelayanan purnajual yang dijanjikan dan
  4. Kejujuran mengenai segala kegiatan yang terkait dengan penjualan produk yang dilakukan olehwirausahawan.

 

Kreatif dan Inovatif

Untuk memenangkan persaingan, maka seorang wirausahawan harus memiliki daya kreativitas yang tinggi.

Perilaku kreatif terbagi menjadi empat tipe menurut Unsworth (dalam Fillis dan Rentschler, 2010), yakni:

  1. Kreatifitas responsif,
  2. Expected creativity,
  3. Kreatifitas kontributif, dan
  4. Kreatifitas proaktif.

Seluruh perilaku tersebut sebaiknya dilandasi oleh cara berpikir yang maju, penuh dengan gagasan-gagasan baru yang berbeda dengan produk-produk yang telah ada selama ini di pasar.

Kreativitas dibutuhkan agar wirausahawan mampu menemukan solusi dengan cara yang fleksibel dan sederhana. Bagaimana seorang wirausahawan memandang tugas dan pekerjaan dalam usahanya memperngaruhi bagiamana tingkat kreatifitas wirausahawan. Pendekatan wirausaha dalam kreatifitas dapat membantu wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian dan ketidakjelasan dalam penentuan keputusan dan menghadapi lingkungannya. Gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang, bentuk ataupun waktu. Justru sering kali ide-ide jenius yangmemberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha awalnya adalah dilandasi oleh gagasan-gagasan kreatif yang kelihatannya mustahil.

 

Mandiri

Seseorang dikatakan mandiri apabila orang tersebut dapat :

  1. melakukan keinginan dengan baik tanpa adanya ketergantungan pihak lain dalam mengambil keputusan atau bertindak,
  2. Termasuk mencukupi kebutuhan hidupnya, tanpa adanya ketergantungan dengan pihak lain.
  3. Kemandirian merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Pada prinsipnya seorang wirausahawan harus memiliki sikap mandiri dalam memenuhi kegiatan usahanya.

 

Realistis

Seseorang dikatakan realistis bila orang tersebut mampu menggunakan fakta/realita sebagai landasan berpikir yang rasional dalam setiap pengambilan keputusan maupun tindakan/ perbuatannya.

Banyak seorang calon wirausahawan yang berpotensi tinggi, namun pada akhirnya mengalami kegagalan hanya karena wirausahawan tersebut :

  1. Tidak realistis,
  2. Tidak objektif dan
  3. Tasional dalam pengambilan keputusan bisnisnya.

Karena itu dibutuhkan kecerdasan dalam melakukan seleksi terhadap masukan-masukan/ sumbang saran yang ada keterkaitan erat dengan tingkat keberhasilan usaha yang sedang dirintis.

 

Faktor Kegagalan Dalam Wirausaha

Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003: 44-45) ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:

  1. Tidak kompeten dalam manajerial.
  2. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.
  3. Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
  4. Manajemen keuangan kurang tertata. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan memelihara aliran kas menyebabkan operasional perusahan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
  5. Perencanaan yang kurang matang. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
  6. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
  7. Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat berhubungan dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang pengawasan mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.
  8. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.

 

Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan atau transisi kewirausahaan.

Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil.

Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.

Peran Wirausaha Dalam Perekonomian Nasional

Seorang wirausaha berperan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal seorang wirausaha berperan dalam:

  1. Mengurangi tingkat kebergantungan terhadap orang lain,
  2. Meningkatkan kepercayaan diri, serta
  3. Neningkatkan daya beli pelakunya.

Secara eksternal, seorang wirausaha berperan dalam menyediakan lapangan kerja bagi para pencari kerja.

Dengan terserapnya tenaga kerja oleh kesempatan kerja yang disediakan oleh seorang wirausaha, tingkat pengangguran secara nasional menjadi berkurang.

Menurunnya tingkat pengangguran berdampak terhadap naiknya pendapatan perkapita dan daya beli masyarakat, serta tumbuhnya perekonomian secara nasional.

Selain itu, berdampak pula terhadap menurunnya tingkat kriminalitas yang biasanya ditimbulkan oleh karena tingginya pengangguran.

 

Seorang wirausaha memiliki peran sangat besar dalam melakukan wirausaha. Peran wirausaha dalam perekonomian suatu negara adalah:

  1. Menciptakan lapangan kerja
  2. Mengurangi pengangguran
  3. Meningkatkan pendapatan masyarakat
  4. Mengombinasikan faktor–faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
  5. Meningkatkan produktivitas nasional

 

Buku rujukan dasar

Berikut adalah 5 buku rujukan dasar untuk membantu menjadi pengusaha sukses. Bila perlu menjadi seorang miliarder:

 

1. The Little Red Book of Selling

Setiap entrepreneur akan membutuhkan bimbingan cara menjual yang ampuh. Tak peduli apakah Anda ingin menjual bisi pada pegawai, investor, maupun konsumen, Anda harus bisa menguasai teknik berjualan.

Buku ini mengantarkan anda pada lingkaran penjualan dan proses industri secara umum

 

2. Good Luck: Creating the Condition for Success in Life and Business

Mungkin Anda bukan penyuka buku penuntun bisnis. Namun tak salah jika Anda membaca buku motivasi untuk memulai bisnis sendiri. Tanpa menjadi terlalu usang, buku ini merupakan bacaan pendek yang akan membimbing Anda memulai bisnis baru sekaligus kehidupan secara keseluruhan.

 

3. The Entrepreneur’s Manual

Buku klasik ini merupakan produk lama dan tak lagi dicetak. Isi dari buku ini tak terlalu terorganisasi dengan baik, namun kompilasi dari tulisan didalamnya akan membuat Anda kembali seiring bisnis yang makin berkembang

 

4. The Portable MBA in Entrepreneurship

Buku referensi klasik lainnya dari lanjutan The Entrepreneur’sw Manual dengan berbagai latihan dan referensi.

 

5. 3-D Negotiation

Keahlian penting lain yang harus dimiliki setiap entrepreneur adalah kemampuan bernegosiasi. Negosiasi tak selalu menyuarakan keinginan secara lantang dan bermain keras.

Buku ini juga dijadikan rujukan untuk sekolah bisnis Harvard bagi pegawai di level eksekutif dalam pelatihan bernegosiasi.

Perbedaan Wirausaha dan Wiraswasta
Dalam kehidupan sehari-hari, selain sering mendengar istilah wirausaha, kita juga sering mendengar istilah wiraswasta. Banyak orang yang salah mengartikan diantara keduanya. Lantas, apa saja sih perbedaan wirausaha dan wiraswasta?

Dikatakan orang yang memiliki jiwa wirausaha adalah mereka yang memiliki usaha yang dijalankannya sendiri. DImana usaha tersebut dibangun atau dirintis sendiri. Seorang wirausaha bisa sambil menjalankan usaha mereka sendiri, sekaligus sebagai owner.

Sementara yang dimaksud dengan wiraswasta adalah seseorang yang bekerja di sebuah perusahaan atau ditempat usaha orang lain. Dalam bahasa umum, wiraswasta adalah karyawan yang bekerja di sebuah organisasi atau perusahaan.

Namun perbedaan wirausaha dan wiraswasta dapat ditilihat menjadi beberapa sudut pandang sebagai berikut.

1. Lingkup Bisnis
Ditinjau dari ruang lingkup bisnis, seorang wirausaha menjalankan usaha bisnis mereka lebih dari satu bidang saja. Jadi sangat memungkinkan membuka usaha bisnis dibidang lain, dan sebanyak mungkin sesuai keinginan mereka. Tentu saja alasan mereka pun beragam, ada yang memang karena passion, ada yang karena mengejar keuntungan.

Sebaliknya dengan wiraswasta, ruang lingkup bisnis yang mereka jalanya sebatas pada satu bidang saja. Sulit membuka peluang di bidang lain, karena tuntutan dan kewajiban. Seperti yang disinggung sebelumnya, jika wiraswasta bekerja ditempat usaha orang lain. Jika dia bekerja menjadi pelayan di restoran, maka hanya itu yang bisa mereka kerjakan.

2. Lingkup Mindset Berfikir
Perbedaan wirausaha dan wiraswasta yang paling menonjol terletak pada mindset berfikir mereka. Mindset berfikir pada wirausaha memiliki karakter mandiri, berani mengambil resiko dan memiliki jiwa kepemimpinan. Dari segi mentalitas, mereka tahan banting. Dari segi pemikiran pun mereka memiliki pemikiran out off the box, sehingga banyak ide, kreativitas dan inovasi yang bisa mereka ciptakan.

Sementara mindset berpikir wiraswasta seperti pada umumnya orang. Dari segi karakter, mereka ulet dan pekerja keras. Namun untuk kasus tertentu, mentalitas seorang wiraswasta tidak sekuat mental wirausaha. Seorang wirausaha berani mengambil keputusan, sementara orang wiraswasta umumnya menjadi zona aman.

3. Ruang Lingkup Visi dan Misi
Seorang wirausaha dari ruang lingkup visi memiliki business plan. Tidak hanya itu saja, seorang wirausaha selalu bersemangat untuk mewujudkan visi yang mereka buat agar dapat menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya.

Sementara wirausaha cukup mengupgrade isu-isu terbaru yang terjadi, untuk mengembangkan bisnis tempat mereka bekerja. Dari segi visi, mereka cenderung pragmatis dengan apa yang sudah ada. Sehingga terkesan kurang menantang.

Itulah beberapa perbedaan wirausaha. Jika ditinjau lebih dalam lagi, masih ada banyak yang membedakan diantaranya keduanya.

Keuntungan Menjadi Wirausaha
Perbedaan wirausaha dan wiraswasta sebenarnya menarik untuk dipelajari. Nah, buat kamu yang memang sudah ada gambaran ingin menjadi seorang wirausaha, berikut beberapa keuntungan yang akan kamu peroleh.

1. Mendapatkan penghasilan sendiri
Sudah jelas akan memperoleh hasil sendiri. Tentu saja hasil yang diperoleh tiap orang berbeda-beda. hasil yang akan diperoleh sesuai dengan pengorbanan dan tingkat risiko yang diambil. Semakin besar risiko yang diambil, semakin besar keuntungan atau penghasilan yang akan kamu peroleh.

Namun jika risiko tersebut gagal, maka risiko kerugian juga besar. Itu sebabnya menjalan sebuah usaha hanya bisa dijalankan oleh mereka yang memiliki mentalitas yang besar juga.

2. Melakukan pekerjaan sesuai yang ia sukai
Selama ini banyak yang beranggapan bahwa menjalankan sebuah usaha bisnis itu susah. Atau bagi beberapa orang secara modal sudah ada, namun bingung ingin menjalankan bisnis yang seperti apa. Mereka kesulitan menemukan ide usaha.

Padahal, menjalankan usaha bisnis cukup diawali dari rasa suka. Saya yakin setiap orang memiliki hobi dan kesukaannya masing-masing bukan? Banyak para praktisi dan pengusaha sukses, mereka mengawali usaha mereka dari rasa suka mereka terhadap sesuatu. Kemudian ditekuni selama bertahun-tahun, bertahan dan melawan hambatan, hingga puncaknya ia mendapatkan definisi kesuksesan.