February 26, 2024
Presiden Mencari Panggung

Presiden Mencari Panggung

Penulisan ini untuk mengetahui kehidupan profesi presiden yang selama ini terlihat sebagai agen perubahan, penuh idealisme dalam menghadapi perubahan ke arah yang tidak lebih dari sekedar drama. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan studi dramaturgi. Teknik pengumpulan data menggunakan snowball sampling, observasi, wawancara, dokumentasi.
Analisis data dilakukan dengan teknik interaktif. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa presiden sering berada di panggung depan (front stage) yang berkilau sehingga kalau dia tidak bisa kembali ke panggung belakang (back stage), maka akan terus bermain peran. Semua diperankan sebagai sosok presiden yang serba tahu dan merasa paling penting. Ada juga yang bukan panggung depan dan panggung belakang tetapi menjadi saksi dari pertunjukkan yang berlangsung: yaitu daerah luar (residual)

 

Oleh Imam S Ahmad Bashori
itbang Indonesia Bebas Masalah

 

Kontrolsosial.com: Teori Dramaturgi adalah teori pemikiran tentang Teori Panggung Sandiwara dalam interaksi sosial yang dimaknai seperti drama dalam teater. Teori ini dikembangkan oleh sosiolog terkemuka yaitu Erving Goffman.

Siapapun mahasiswa, akademisi lainnya yang pernah membicarakan tentang tokoh ini akan mudah mengenali beberapa konsep tentang Panggung Depan (Front Stage), Panggung Belakang (Back Stage), Diri (Self) dan Manajemen Kesan (Management Impression).

Dalam bukunya yang berjudul Presentation of Self in Everyday Life (1959), Goffman menjelaskan bahwa dramaturgi adalah sandiwara kehidupan yang disajikan oleh manusia.

Situasi dramatik yang seolah-olah terjadi di atas panggung sebagai ilustrasi untuk menggambarkan individu-individu dan interaksi yang dilakukan mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Teori yang dikembangkan oleh Goffman ini tidak lepas dari teori looking-glass self oleh Charles Cooley. Teori tersebut terdiri dari tiga komponen, yaitu:

Seseorang mengembangkan bagaimana ia tampil bagai orang lain
Seseorang membayangkan bagaimana penilaian orang lain atas penampilannya
Seseorang mengembangkan perasaan diri sebagai akibat mengembangkan penilaian orang lain

Menurut Goffman seperti dikutip oleh Deddy Mulyana pada buku Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya (2008), kehidupan sosial dapat dibagi menjadi wilayah depan dan wilayah belakang.

Wilayah depan diibaratkan panggung sandiwara bagian depan (front stage) tempat pemain berperan atau bersandiwara. Front stage merupakan panggung yang terdiri dari bagian pertunjukan atas penampilan dan gaya.

Di panggung ini individu membangun dan menunjukan sosok ideal dari identitas yang akan ditonjolkan dalam interaksi sosialnya.

Sedangkan wilayah belakang ibarat panggung bagian belakang (back stage) atau ruang rias tempat pemain bersantai, mempersiapkan diri atau berlatih untuk memainkan perannya di panggung depan.

Back stage merupakan bagian tersembunyi dari pertunjukan. Bagian ini dimaksudkan untuk melindungi rahasia pertunjukan dan menjadi tempat individu tampil seutuhnya dalam arti identitas aslinya.

Teori ini menggambarkan manusia yang tidak tampil apa adanya di dalam kehidupan bersosial. Manusia ingin menampilkan pertunjukan terbaiknya untuk mendapatkan citra yang baik pula dalam bersosial.

 

Dramaturgi Positif

Goffman dan pemikirannya hadir tepat pada waktunya di saat wacana ilmu sosial terus didominasi oleh Grand Theory/Grand Narrative.

Gaya berfikir Positivis yang diadopsi oleh para fungsionalis seakan-akan membuat permasalahan di bidang masyarakat seakan-akan terus bekelakar pada bidang yang sangat struktural, membuat cara pandang melihat masyarakat menjadi agak kaku dan terkesan pukul rata. Padahal masyarakat terus berubah, mengalami dinamika.

 

Memunculkan Penilaian

Problem yang muncul justru dari bagaimana orang memberikan penilaian terhadap peran yang kita jalankan dihadapan publik. Bisa dipastikan, penilaian tersebut akan bersifat sangat subjektif.

Kendati seobjektif apapun seseorang merasa benar dalam penilaiannya karena yang mereka hanya melihat Diri sebagai Tokoh bukan sebagai diri Asli si Individu tersebut.

Lucunya, seringkali Individu justru menikmati perannya sebagai Tokoh ketimbang menjadi Diri sendiri.

Tidak jarang pula individu mengklaim bahwa dirinya sebagai Tokoh adalah dirinya sendiri. Dirinya yang Asli.

Para pemimpin atau bakal calon pemimpin misalnya. Mengapa?. Karena mungkin saja dalam dunia perpolitikan tidak perlu ada Mistifikasi melalui Baliho dengan slogan demi mencapai suara jikalau dirinya sendiri sadar bahwa ia memang benar-benar berjiwa ‘Pemimpin’.

 

Ketidaksempurnaan

Kita akan kesulitan mencari kebenaran, ketulusan, kebaikan yang sebetulnya tersimpan dalam diri masing-masing individu.

Ketidakmampuan melihat hal tersebut menjadi kekurangan mendasar tentang Dramaturgi yang diusung oleh Goffman.

Dramaturgi hanya cocok untuk sekedar mementaskan, bukan mencari Feedback dari proses Interaksi Sosial. Karena, sebenarnya yang dicari oleh Individu dalam berdramaturgi adalah mencapai tujuan diri sendiri. (Manning:1992, Ritzer:2011).

Ini juga merupakan efek samping dari Impression Management (manajemen kesan) dari Individu yang sulit untuk meracik antara konsepsi Diri yang Asli dengan Diri sebagai ‘Tokoh’ dalam Masyarakat.

Namun, partikel-partikel kebaikan yang mungkin sangat tidak ilmiah itulah yang kiranya akan membantu kita keluar dari prasangka-prasangka kebohongan. Baik dari masyarakat kepada individu maupun sebaliknya. Dan dalam sadar saya, setiap manusia pasti memilikinya. Bukankah kita disarankan mengikuti pepatah,”Don’t judge by a cover”?.

 

Kontrolsosial.com diterbitkan oleh Asosiasi Periset Kontrol Sosial. Asosiasi Periset Kontrol Sosial melihat kepentingan mendesak kelas buruh dan rakyat Indonesia adalah penuntasan revolusi demokratis.

Revolusi demokratis yang tidak tuntas memunculkan persoalan dalam bidang demokrasi, kebangsaan dan militerisme.

Penuntasan revolusi demokratis ini dengan mendirikan kediktaktoran demokratis revolusioner kelas buruh dan rakyat. Dimana kekuasaan akan didemokratiskan; aset-aset kapitalis akan diambilalih secara bertahap dimulai dengan alat-alat produksi yang paling siap; kepemilikan privat yang kecil-kecil akan didorong, bukan dengan paksaan namun dengan contoh dan bantuan sosial, untuk menjadi koperasi atau bentuk kooperatif lainnya.

Penuntasan revolusi demokratik secara revolusioner akan mempermudah kelas buruh untuk mengorganisasikan kekuatannya. Melemahkan cengkraman kelas borjuis yang setengah hati dalam perjuangan demokrasi. Dari penuntasan revolusi demokratik tersebut kelas buruh dapat segera, sesuai dengan tingkat kekuatannya, kekuatan kesadaran kelas dan proletariat yang terorganisir, untuk bergerak ke revolusi sosialis. Tatanan sosialisme yang dimaksud adalah kekuasaan kelas buruh dan rakyat pekerja yang terorganisasi sebagai negara, yang mewujud di dalam dewan-dewan rakyat. Bersamaan dengan itu, pengorganisasian alat-alat produksi akan dilakukan secara demokratis dan terencana, demi mewujudkan masyarakat tanpa kelas dan keberlangsungan alam, sehingga untuk pertama kalinya suatu masyarakat yang manusiawi akan terwujud, dimana perkembangan bebas akan menjadi syarat bagi perkembangan umat manusia secara keseluruhan.

 

Silahkan klik https://bit.ly/3nNbDwZ untuk aplikasi android kontrolsosial.com

 

Konten ini bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu

 

Jika berhasil tidak dipuji,
Jika gagal dicaci maki.
Jika hilang tak akan dicari,
Jika mati tak ada yang mengakui

 

Silahkan klik https://bit.ly/3nNbDwZ untuk Download aplikasi Kontrol-sosial

 

Baca juga:

 

Link aplikasi android kontroversi bisa didownload https://bit.ly/3nNbDwZ

Ingin Berkontribusi?

Masuk menggunakan akun microsite anda, apabila belum terdaftar silakan klik tombol di bawah.

Independensi adalah Ruh Kontrol Sosial. Sejak berdiri pada 4 November 2002, kami menjunjung tinggi jurnalisme yang tidak berpihak pada kepentingan politik mana pun. Dalam setiap pemberitaan, Redaksi Kontrol Sosial selalu berikhtiar mencari kebenaran meski di tempat-tempat yang tak disukai.

Karena itu, kami konsisten memilih pendekatan jurnalisme investigasi. Hanya dengan metode penyelidikan yang gigih dan sistematis, kami berharap bisa melayani publik dengan informasi yang benar mengenai skandal maupun pelanggaran terstruktur yang merugikan khalayak ramai.

Tentu kami tak akan bisa menjalani misi ini tanpa Anda. Dukungan Anda sebagai pelanggan Kontrol Sosial akan membuat kami lebih independen dan lebih mampu membiayai berbagai liputan investigasi mengenai berbagai topik yang relevan untuk Anda.

Kami yakin, dengan bekal informasi yang berkualitas mengenai isu-isu penting di sekitar kita, Anda bisa mengambil keputusan dengan lebih baik, untuk pribadi, lingkungan maupun bisnis Anda.



Boleh share dan copy paste

Jika kau sudah membaca tulisan ini kau sudah mendapatkan pahalanya,
namun bila kau menyebarkannya dan orang lain mendapatkan manfaat juga maka akan dilipat gandakan pahalamu Insya Allah

Redaksi Kontrol Sosial mengundang dalam program jurnalime warga dengan daftar login menulis sendiri kontrolsosial.com pojok kanan atas untuk mendapatkan akses tayang sendiri peristiwa dan kejadian sebagai kontrol sosial di lingkungan sekitar anda masing-masing

 

Silahkan klik https://bit.ly/3nNbDwZ untuk Download aplikasi kontrolsosial.com

 

 

Produk  Hukum NU

 

AMALIYAH NU

BUKU DAN KITAB

SEJARAH

  1. Ilmu Sejarah
  2. Pengantar Ilmu Sejarah
  3. Liputan Khusus Majalah Tempo : Republik  Di Mata Indonesianis
  4. Mansia dan Sejarah
  5. Tatanan orde baru
    1.  

    Isu-isu Masyarakat Digital Kontemporer

    Strategi Kewirausahaan Digital

 

Wawasan Islam

  1. Proses Revolusi Islam ; Sayyid Abul A’la Al-Maududi
  2. Agama Islam dan Politik
  3. Gerakan Sempalan di Indonesia
  4. Orang Nusantara Naik Haji
  5. Komunisme Musuh Islam Sepanjang Sejarah
  6. Asas-asas Islam
  7. Beberapa Studi Tentang Islam
  8. Cara Hidup Islam
  9. Dasar-dasar Islam
  10. Beberapa Pelajaran Dalam Amal Islami
  11. Empat Istilah Dalam Al-Qur’an
  12. Menuju Madinatul Munawwarah
  13. Hand Book Imarah Islam Indonesia
  14. Perang Salib Vs Perang Sabil : Abdul Qadir Djaelani
  15. Intelijen Nabi
  16. Sirah Nabawiyah – Said Ramadhan Al-Buti
  17. Karen Amstrong – Sejarah Tuhan
  18. Ibn Katsir – Tafsir Ibn Katsir juz 1 [35.4 MB |download], juz 2 [19.6 MB |download], juz 3 [13.4 MB |download], juz 4 [15.6 MB |download], juz 5 [16.7 MB |download], juz 6 [23.3 MB |download], juz 7 [18.5 MB |download], juz 8 [15.7 MB |download], juz 9 [17.9 MB |download]
  19. Halumma Ila Mardhatillah, Ibnu Bahasan, Maramedia Publishing, 2010
  20. Terjemah Ta’alim Muta’allim Karya Syaikh Az-Zarnuji