February 27, 2024
Kopi Ditindak, Sungai Dijanjikan, Agenda Dilupakan ?

Kopi Ditindak, Sungai Dijanjikan, Agenda Dilupakan ?

Oleh Imam Ahmad Bashori Al-Muhajir
Editor Moh Ardi Munichatus Sa’adah SPsi

 

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap temuan kandungan bahan kimia obat dalam sejumlah merek kopi sachet. Bahan kimia obat yang terkandung dalam kopi-kopi saset tersebut adalah paracetamol dan sildenafil.

 

Kepala BPOM Penny K Lukito, temuan itu didapat setelah pihaknya melakukan operasi penindakan obat tradisional dan bahan pangan ilegal pada Februari lalu.

Dalam temuan BPOM itu, terdapat enam merek kopi saset mengandung paracetamol dan sildenafil, yakni sebagai berikut:

  1. Kopi jantan
  2. Kopi Cleng
  3. Kopi Badak
  4. Spider
  5. Urat Madu
  6. Kopi Jakarta Bandung

“Tentunya harus diketahui masyarakat ini (kopi temuan BPOM) untuk meningkatkan stamina siapapun mengonsumsinya, terutama stamina laki-laki ini dan obat anti nyeri yang digunakan bersamaan tentunya akan menunjukkan sesuatu yang meningkatkan energi daya tahan tubuh,”  kata Penny dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (4/3/2022).

Penny mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap produk-produk tertentu meskipun di kemasannya sudah tertera izin BPOM. Sebab kata dia, tidak menutup kemungkinan produsen memalsukan izin BPOM-nya.

“Itulah kenapa kita perlu mengecek BPOM mobile, kalaupun kita sudah melakukan check kemasan, label, kedaluwarsa, tapi tetap harus cek kembali apa betul izin edarnya itu adalah betul-betul tidak palsu,” jelas Penny.

Operasi penindakan obat dan bahan pangan ilegal ini dilakukan oleh Kedeputian Bidang Penindakan BPOM bersama dengan Balai Besar POM di Bandung dan Loka POM di Kabupaten Bogor.

Dari hasil operasi ditemukan produk berupa 15 jenis pangan olahan dan 36 jenis obat tradisional mengandung bahan kimia obat (BKO).

Kemudian, ditemukan juga 32 kg bahan baku obat ilegal seperti Parasetamol dan Sildenafil dan 5 kg produk ruahan/bahan campuran setengah jadi.

“Ada alat produksi sederhana dan tidak memenuhi cara produksi obat yang baik, kemudian ada produk jadinya sendiri”, papar Penny.

Efek samping kopi mengandung paracetamol dan sildenafil
Kandungan paracetamol dalam kopi-kopi tersebut tidak diketahui secara jelas dosisnya. Padahal, konsumsi paracetamol melebihi dosis yang dianjurkan (overdosis) dapat menyebabkan gangguan sistem organ hati.

Paracetamol biasa digunakan pereda nyeri dan demam. Namun tetap saja penggunaannya harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu.

Sementara sildenafil merupakan nama generik atau zat aktif, yang secara klinis digunakan untuk mengatasi impotensi atau disfungsi ereksi pada pria.

Overdosis sildenafil dapat berakibat pada kesulitan napas, pingsan, penurunan fungsi pengelihatan dan pendengaran, serta ereksi yang terjadi selama 4 jam atau lebih.

Bagi penderita sakit jantung, konsumsi obat kimia sildenafil yang berlebihan dapat mengakibatkan nyeri di dada, rahang, lengan kiri, pusing, dan mual.

Penny menjelaskan, penggunaan bahan pangan yang mengandung bahan kimia obat ini berisiko pada kesehatan seperti gangguan jantung, gangguan hati, hingga menyebabkan kematian.

“Siapapun yang mengonsumsi ini ya kemudian gangguan-gangguan lainnya bahkan bisa menyebabkan kematian, penyakit kanker juga memungkinkan tentunya,” ucapnya.

Saat ini BPOM sudah menyita obat-obatan tradisional dan bahan pangan yang mengandung BKO dari hasil operasi penindakan tersebut.

Lebih lanjut, Penny menuturkan, dalam operasi tersebut, terdapat dua tersangka terkait pemalsuan izin edar BPOM dan fasilitas produksi ilegal.

“Pasal yang diberlakukan adalah pasal 196, 197 Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan pidana penjara 15 tahun paling banyak dan denda paling banyak satu setengah miliar serta Undang-Undang tentang Pangan”, ujarnya

 

Paracetamol di Sungai Citarum dan Teluk Jakarta

Paracetamol dan sejumlah limbah obat-obatan lainnya ditemukan di berbagai lokasi aliran Sungai Citarum, Jawa Barat. Khusus paracetamol, kadarnya bahkan dua kali lipat lebih tinggi dari yang didapati di Teluk Jakarta dalam penelitian berbeda.

Melalui kajian yang ditempuh sejumlah peneliti dari Universitas York, Inggris, diketahui ada beragam zat aktif mencemari Sungai Citarum.

Selain paracetamol, terdapat nikotin, carbamazepine yang biasa digunakan sebagai obat epilepsi, serta metformin yang kerap dipakai sebagai obat diabetes. Ada pula limbah sejumlah obat antibiotik.

Berdasarkan data dari 10 lokasi pengambilan sampel di aliran Sungai Citarum, sampel di dua lokasi menunjukkan bahwa kadar paracetamol mencapai 1630 nG/L dan 1590 nG/L.

Jumlah ini jauh lebih tinggi ketimbang temuan paracetamol di Teluk Jakarta yang diungkap para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Universitas Brighton, Inggris, pada 2021 silam.

 

Studi pendahuluan (preliminary study) yang diterbitkan di jurnal Marine Pollution Bulletin Juni 2021 lalu, menemukan kontaminasi paracetamol di Muara Angke mencapai 610 ng/L — konsentrasi tertinggi yang pernah ditemukan dalam air laut.

Jika ditinjau dari angka rata-rata konsentrasi limbah obat-obatan yang terakumulasi—berdasarkan kajian Universitas York—limbah di Sungai Citarum memang jauh di bawah tingkat keparahan sungai di Lahore, Pakistan.

Sungai Citarum mencapai 5460 ng/L, sedangkan Sungai Ravi di Lahore adalah yang terparah dengan 70.700 ng/L.

Angka ini, sebagaimana dipaparkan penelitian ini, mencerminkan kenyataan bahwa pencemaran limbah obat-obatan atau farmaseutikal di berbagai sungai di dunia menimbulkan “ancaman terhadap lingkungan dan kesehatan dunia”.

Kajian ini meneliti sampel dari 1.052 lokasi di 104 negara. Hasilnya, sekitar 25% dari 258 sungai yang sampelnya diteliti mengandung “zat aktif obat-obatan” pada tingkatan yang diyakini tidak aman bagi organisme perairan.

“Biasanya, yang terjadi adalah kita mengonsumsi zat kimia ini. Zat tersebut menghasilkan efek yang diinginkan kemudian meninggalkan tubuh kita,” kata Dr John Wilkinson selaku ketua tim penelitian, kepada awak media.

“Yang kita ketahui kini adalah tempat pengolahan limbah air paling modern dan efisien sekalipun tidak sepenuhnya mampu mengurai zat-zat ini sebelum dibuang ke sungai atau danau,” lanjutnya.

Obat-obat yang paling sering ditemukan di lokasi-lokasi pengambilan sampel adalah carbamazepine yang biasa digunakan sebagai obat epilepsi serta metformin yang kerap dipakai sebagai obat diabetes. Tiga zat lainnya yang paling banyak didapati adalah kafein, nikotin, dan paracetamol.

 

Bersih dalam 7 tahun

Beberapa bulan setelah film dokumenter tentang sungai Citarum beredar luas, Presiden Jokowi berjanji untuk membersihkan sungai Citarum yang tercemar. Harus berbenah setelah menunggu kritikan dari masyarakat?

Gary dan Sam Bencheghib, dua kakak beradik warga Perancis, mendayung sampannya yang terbuat dari botol plastik bekas, di tengah sampah yang dibuang di sungai Citarum, pertengahan tahun lalu.

“Kami melihat dari dekat betapa kotor dan tercemarnya sungai itu dan merekamnya dalam film dokumeter, dengan tujuan untuk mengkampanyekan bahwa air adalah sumber kehidupan,” kata Gary (23 tahun) saat dihubungi oleh BBC Indonesia melalui telepon, 28 Februari 2018.

Presiden Joko Widodo menanggapi video tersebut dengan menjanjikan bahwa Citarum akan bersih dalam tujuh tahun.

“Gary, nanti kamu akan lihat bahwa dalam tujuh tahun Citarum akan menjadi sungai paling bersih”, kata Presiden Joko Widodo dalam video yang diunggah oleh Make A Change World, halaman Facebook milik Gary dan adiknya, Sam.

 

Juru Bicara Presiden Johan Budi SP membantah anggapan bahwa pemerintah baru bertindak setelah ada video viral dari Gary dan Sam.

“Itu awal-awal, kebetulan ada momen itu yang viral, tapi sebelumnya memang pemerintah sudah lama berencana dan ini melibatkan banyak pihak”, kata Johan kepada salah satu awak media. (1 Maret 2018)

Pada 22 Februari tahun lalu, Presiden Jokowi meresmikan dimulainya program Penanggulangan Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum di hulu Citarum, Situ Cisanti.

Gary pun diundang dalam acara tersebut dan diajak membuat vlog bersama Presiden. “Bersatu padu kita membersihkan Citarum. Kita berusaha secepat mungkin bisa bersih dan semoga dalam tujuh tahun ke depan sudah bisa jadi sumber air minum,” kata Joko Widodo melalui akun Twitter resminya, 22 Februari.

Sungai Citarum sudah bertahun-tahun masuk dalam daftar sungai paling kotor di dunia. Walhi Jawa Barat yang diwawancarai awak media tahun lalu menjelaskan bahwa Citarum tak hanya kotor, tapi beracun karena sarat kandungan logam berbahaya dari limbah industri.

 

Tahun 2017=370 perusahaan

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada 2017 mencatat adanya 370 perusahaan di Bandung Raya yang mencemari Sungai Citarum.

“Dari ratusan perusahaan yang mengolah limbah dengan baik dan setengah baik itu jari saya tidak habis untuk menghitungnya, saking jarangnya perusahaan yang mengelola limbah dengan baik. Padahal mereka ketika diberi ijin untuk mendirikan perusahaan pasti mereka juga diperintahkan untuk membuat Ipalnya dengan baik,” tutur Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Berdasarkan data Pemprov Jabar, dari 71 perusahaan di Majalaya dan Kabupaten Bandung, yang sebagian besar pabrik tekstil, sebanyak 64 perusahaan mengeluarkan air limbah, 68 perusahaan mengeluarkan emisi udara, dan 65 perusahaan menghaslkan limbah B3.

Untuk menangani hal tersebut, Pemprov Jawa Barat membentuk Samsat lingkungan yang terdiri dari unsur pemerintah (provinsi dan kabupaten/kota), kepolisian, kejaksaan, unsur TNI, serta unsur perusahaan atau asosiasi perusahaan.

Samsat ini akan bertugas untuk menyelesaikan permasalah perusahaan terkait pengelolaan limbah ataupun kegiatan perusahaan yang berdampak pada pencemaran lingkungan.

Namun tampaknya keberadaan Samsat lingkungan tersebut belum terasa manfaatnya. Terbukti, pencemaran Sungai Citarum belum bisa teratasi.

 

Bupati Bandung, Dadang Naser, berdalih masalah kewenangan seringkali menjadi kendala pemerintah daerah dalam mengatasi pencemaran sungai. Meski sebagian Curug Jompong masuk ke wilayahnya, namun Dadang mengatakan, kewenangan mengelola aliran sungai itu ada di tangan Pemprov Jawa Barat dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

Dadang mengaku sudah mendengar kabar Curug Jompong beracun. Pihaknya sudah memanggil 16 perusahaan yang diduga mencemari sungai. Dari jumlah tersebut, 14 perusahaan telah diajukan ke pengadilan.

“Kita ingin pabrik benar-benar menjalankan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)” ujarnya.

Namun, kata Dadang, penindakan terhadap pengusaha yang nakal sebaiknya dilakukan oleh aparat penegak hukum dengan mengacu pada Undang-undang Lingkungan agar sanksi lebih berat. Pihaknya hanya bisa memberi sanksi sesuai dengan peraturan daerah yang ada.

“Aparat penegak hukum yang harus masuk, bukan bupati. Bupati hanya peraturan daerah. Sanksinya hanya Rp 50 juta denda dan 3 bulan ancaman hukuman. Kurang berat (sanksinya) harus undang-undang yang bicara,” tegas Dadang.

 

 

Keberhasilan dokumenter

Menurut Gary Bencheghib, keberhasilan karya dokumenternya mendapat tanggapan dari pemerintah Indonesia tidak terlepas dari hasil kerja keras dalam membangun jaringan dan mitra.

Gary dan Sam menghabiskan dua minggu untuk menyusuri sebagian Sungai Citarum, hingga 60 kilometer.

Pada bulan Agustus 2017, Gary menggunggah video Citarum pertamanya di akun Facebook Make A Change World. Seri #plasticbottleCitarum terdiri atas 9 video. Video yang paling populer, episode 4, telah disaksikan 800 ribu kali, dan dibagikan 13 ribu kali.

Make A Change World adalah media tempat Gary dan saudara-saudara berkarya membuat video bertema lingkungan sejak 1,5 tahun yang lalu.

Sebenarnya video soal Citarum bukanlah video yang paling populer di channel Make A Change World. Video mereka tentang musisi Bali yang membuat musik dari bambu, telah disaksikan 4,5 juta kali.

 

September 2017, sebulan setelah video pertama Gary ditayangkan, pemerintah Indonesia memberikan tanggapan. Saat itu Direktur pengelolaan sampah Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sudirman, berjanji akan membuat roadmap untuk berkoordinasi dengan 13 wilayah di sekitar sungai.

“Setelah melihat film itu saya sudah bikin rencana tanggap darurat untuk penanganan sampah Citarum,” kata Sudirman dalam video yang ditayangkan oleh Make A Change World.

“Kami senang sekali mendapatkan respon yang sangat positif dari pemerintah,” kata Gary. Dia mengaku tak pernah menyangka bahwa film dokumenter buatannya akan menimbulkan efek domino yang sedemikian besar.

Strategi mereka adalah dengan membangun jaringan internasional dan media.

“Kami bicara dengan jaringan kami di Bandung, dan dari situ kami dikenalkan ke Mayor Jenderal Doni Monardo (Pangdam Siliwangi), dari situ kami bicara dengan Pak Teten Masduki, lalu akhirnya bertemu dengan Presiden di titik nol Citarum,” kata dia.

“Kami mencari ide yang unik dan mengeksplorasi kemungkinan angle yang bisa dilakukan untuk menceritakannya”, kata Gary yang memang fokus pada isu polusi, air dan sampah plastik.

Dia mengaku tidak melakukan strategi marketing apapun pada akun-akun media sosial Make A Change World.

“Semua organik, kami hanya membangun momentum dan menciptakan percakapan dari situ”, kata dia.

Gary menyebutkan bahwa untuk membuat seri video tersebut dia mendapatkan pendanaan dari beberapa pihak swasta. “Tapi tidak banyak, itu hanya untuk biaya transportasi saja, selebihnya kami bayar sendiri,” kata Gary.

Pria 23 tahun itu berjanji akan terus memantau jalannya proses pembersihan Citarum. Dia percaya bahwa Citarum akan bisa kembali menjadi sungai yang bersih jika semua pihak berkomitmen dan ikut serta dalam usaha pembersihan sungai itu.

“Tahun ini kami masih punya misi selanjutnya di wilayah Indonesia yang lain,” kata dia.

 

Apa komentar pembuat film dokumenter?
Jurnalis dan pembuat film dokumenter Dandhy Laksono mengaku ikut senang dengan respon cepat pemerintah menanggapi film dokumenter tersebut.

“Saya senang kalau pemerintah aspiratif terhadap masukan dalam bentuk apapun dan dari siapapun. Apalagi respon untuk film dokumenter yang menunjukkan bahwa dokumenter juga bisa punya pengaruh,” kata Dandhy.

Dandhy dan rumah produksi yang didirikannya, WatchDog, telah membuat banyak film dokumenter mengenai permasalahan sosial yang terjadi di berbagai tempat di Indonesia.

Film-film mereka juga kerap kali mendapatkan tanggapan dari pemerintah. “Tapi tanggapannya lucu-lucu,” kata Dandhy.

Dia mencontohkan film Di Belakang Hotel yang diproduksi tahun 2014 mengenai kaitan industri pariwisata massal dan hilangnya akses warga terhadap air tanah.

Sultan Hamengkubuwono IX pun menonton film tersebut. “Setelah warga banyak menonton dan dibicarakan ramai, beliau mengatakan bahwa saya baru tahu nih dampak properti seperti ini,” kata dia.

Meski Sultan sudah menonton, hingga kini Dendhy tidak melihat ada kebijakan yang dibuat untuk melindungi akses warga sekitar terhadap tanah atau air tanah.

Contoh kedua adalah pada film Samin vs Semen. “Gubernur Jawa Tengah bereaksi negatif dan mengatakan bahwa film ini kampanye negatif yang tidak mewakili suara orang-orang Samin,” kata Dandhy.

Menurutnya, klaim Gubernur Ganjar tidak bisa dibuktikan. Film ini sudah banyak diapresiasi oleh warga dan dilihat di kampus-kampus.

“Bagi saya itu sudah pencapaian yang paling besar, meski tak satupun film itu menang festival dan mendapatkan penghargaan internasional, tidak sukses secara komersial,” ujarnya.

Jika Gary sengaja memilih isu spesifik seperti Sungai Citarum, Dandhy mengaku memang sengaja mengangkat isu-isu besar yang penuh risiko politik

“Menghentikan reklamasi di Teluk Jakarta atau Benoa ‘kan risikonya besar untuk Presiden. Juga menghentikan pabrik semen yang sudah berinvestasi Rp 5 triliun, risikonya besar,” kata dia.

Respon dari pemerintah hanya dianggapnya sebagai bonus. “Tujuan utama kami adalah bagaimana menguatkan kesadaran masyarakat. Saya membayangkan saya membayangkan film itu ditonton petani-petani lain yang menghadapi konflik serupa dan didiskusikan sehingga mereka punya kesadaran tentang pentingnya mempertahankan tanah”, kata Dandhy.

Menurutnya dengan kesadaran yang terbangun di banyak tempat maka persoalan bisa selesai di banyak tempat pula.

“Misalnya kita menyelamatkan Citarum, ini positif. Tapi bagaimana Mahakam? Barito? Musi? Apakah ada perubahan paradigma dalam mengatasi masalah sampah?”, kata dia.

Menurutnya yang terpenting untuk dilakukan adalah membangun kesadaran masyarakat dalam jangka panjang, siapapun presidennya,

 

Teori mudah, sulit dilakukan
Pakar Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung, Priana Sudjono, berpandangan memulihkan kondisi Sungai Citarum yang tercemar secara teori mudah.

Pengolahan air buangan atau limbah, lanjut Priana, teknologinya telah ada sejak dulu, ditambah lagi ada undang-undang yang menjadi payung hukumnya. Nyatanya, hal itu tetap sulit dilakukan.

“Kegiatan untuk mengolah limbah itu banyak sekali, tidak hanya dari pemerintah yang harus mengawasi tapi masyarakat juga harus sadar dan mengawasi juga,” katanya.

Selain itu, biaya membangun Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang mahal sering menjadi alasan bagi pengusaha. Idealnya, kata Priana, IPAL itu dibangun secara bersama-sama oleh perusahaan sejenis sehingga biaya ditanggung bersama.

“Kalau bersama-sama lebih murah, nanti iuran. Tetapi syaratnya juga banyak, harus satu komplek industri. Misalnya, industri tekstil sendiri, kimia sendiri, makanan sendiri. Sehingga dari segi buangannya juga beda-beda,” kata Lektor Kepala Fakultas Teknil Sipil dan Lingkungan ITB ini.

Menurut Priana, pemerintahlah yang menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi pencemaran sungai ini, dengan mengeluarkan dan menerapkan kebijakan yang prolingkungan. Tapi implementasinya harus diiringi dengan pengawasan yang ketat.

“Masyarakat harus ikut mengawasi juga’, tutupnya.

 

Studi LIPI BRIN

Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama University of Brighton UK menemukan beberapa parameter nutrisi seperti Amonia, Nitrat, dan total Fosfat, melebihi batas Baku Mutu Air Laut Indonesia, terutama di Teluk Jakarta. Penelitian juga mendeteksi adanya kandungan parasetamol di dua situs, yakni muara sungai Angke dan muara sungai Ciliwung Ancol keduanya di Teluk Jakarta.

Sebuah studi di jurnal Science Direct, Agustus 2021, mengungkap sejumlah air laut di wilayah Teluk Jakarta terkontaminasi obat-obatan, salah satunya parasetamol dengan konsentrasi tinggi di Angke dan Ancol.

Para peneliti ini berasal dari School of Pharmacy and Biomolecular Sciences, University of Brighton, Lewes Road, Brighton, United Kingdom Centre for Aquatic Environments, University of Brighton, Lewes Road, Brighton, United Kingdom, dan Research Center for Oceanography, Indonesian Institute of Sciences (LIPI/BRIN).

Mereka adalah Wulan Koagouw, Zainal Arifin, George WJ Olivier, dan Corina Ciocan. Penelitian ini diselidiki dalam sampel air laut yang dikumpulkan dari lokasi yang didominasi limbah di Indonesia, empat lokasi di Teluk Jakarta dan satu di pantai utara Jawa Tengah.

“Terjadinya beberapa kontaminan air, termasuk obat-obatan. Data yang disajikan dalam studi pendahuluan ini memberikan gambaran kualitas air laut di daerah-daerah tersebut,” tulis abstrak jurnal Science Direct, Agustus 2021, bertajuk “High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia”.

 

Konsentrasi tinggi

Konsentrasi Parasetamol yang cukup tinggi, meningkatkan kekhawatiran tentang risiko lingkungan yang terkait dengan paparan jangka panjang terhadap organisme laut di Teluk Jakarta.

 

Prof. Zainal Arifin salah satu peneliti dari BRIN yang terlibat, mengatakan parasetamol merupakan salah satu kandungan yang berasal dari produk obat atau farmasi yang sangat banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia secara bebas tanpa resep dokter.

“Hasil penelitian awal yang kami lakukan ingin mengetahui apakah ada sisa paracetamol yang terbuang ke sistem perairan laut,” papar Zainal dikutip dari siaran resmi BRIN, Senin (4/10/2021).

“Kami melakukan dua lokasi utama, yaitu di Teluk Jakarta dan Teluk Eretan. Konsentrasi paracetamol tertinggi ditemukan di pesisir Teluk Jakarta, sedangkan di Teluk Eretan tidak terdeteksi alat,” lanjutnya.

Temuan ini merupakan hasil dari studi pendahuluan (preliminary study) mengenai kualitas air laut di beberapa situs terdominasi limbah buangan. Hasil studi tersebut dimuat dalam jurnal Marine Pollution Bulletin berjudul “High concentrations of paracetamol in effluent dominated waters of Jakarta Bay, Indonesia”.

Mereka menginvestigasi beberapa kontaminan air dari empat lokasi di Teluk Jakarta yakni Angke, Ancol, Tanjung Priok, dan Cilincing. Selain itu ada satu lokasi di pantai utara Jawa Tengah yakni Pantai Eretan. Zainal menjelaskan, bahwa secara teori sumber sisa paracetamol yang ada di perairan teluk Jakarta dapat berasal dari tiga sumber. Pertama ekresi akibat konsumsi masyarakat yang berlebihan. Kedua, rumah sakit, dan ketiga, industri farmasi.

“Dengan jumlah penduduk yang tinggi di kawasan Jabodetabek dan jenis obat yang dijual bebas tanpa resep dokter, memiliki potensi sebagai sumber kontaminan di perairan. Sedangkan sumber potensi dari rumah sakit dan industri farmasi dapat diakibatkan sistem pengelolaan air limbah yang tidak berfungsi optimal, sehingga sisa pemakaian obat atau limbah pembuatan obat masuk ke sungai dan akhirnya ke perairan pantai,” ungkapnya.

Zainal mengatakan sisa atau limbah obat-obatan atau farmasi memang seharusnya tidak ada di dalam air sungai dan air laut. Menurutnya pemerintah perlu melakukan penguatan regulasi tatakelola pengelolaan air limbah baik untuk rumah tangga, komplek apartemen, dan industri.

Sedangkan dalam pemakaian produk farmasi baik obat atau stimulan, masyarakat dinilai harus lebih bertanggung jawab, misalnya tidak membuang sisa obat sembarangan. Menurutnya saat ini belum ada petunjuk pembuangan sisa-sisa obat.

“Tugas setiap kita baik industri maupun masyarakat, untuk menjaga kesehatan manusia dan juga kesehatan lingkungan termasuk laut. Semua itu agar kita dapat hidup lebih bermakna”, ungkap Zainal.

Adapun mengenai bahaya Paracetamol tersebut terhadap lingkungan, peneliti BRIN lainnya, Wulan Koaguow mengaku belum mengetahui, dan perlu riset lebih lanjut. Meski demikian jika jika konsentrasinya selalu tinggi dalam jangka panjang maka bisa memberikan dampak buruk.

“Hal ini menjadi kekhawatiran kita karena memiliki potensi yang buruk bagi hewan-hewan laut. Hasil penelitian di laboratorium yang kami lakukan, menemukan bahwa pemaparan parasetamol pada konsentrasi 40 ng/L telah menyebabkan atresia pada kerang betina, dan reaksi pembengkakan. Penelitian lanjutan masih perlu dilakukan terkait potensi bahaya paracetamol atau produk farmasi lainnya pada biota-biota laut,” ungkap Wulan.

Hasil penelitian menunjukkan, jika dibandingkan dengan pantai-pantai lain di belahan dunia, konsentrasi Paracetamol di Teluk Jakarta adalah relatif tinggi (420-610 ng/L) dibanding di pantai Brazil (34. 6 ng/L), pantai utara Portugis (51.2 – 584 ng/L).

Meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut, namun beberapa hasil penelitian di Asian Timur,seperti Korea Selatan menyebutkan bahwa zoo plankton yang terpapar paracetamol menyebabkan peningkatan stress hewan, dan oxydative stress, yakni ketidakseimbangan antara produksi radikal bebas dengan sistem antioksidan, yang berperan dalam mempertahankan homeostasis.

 

Menindaklanjuti

Menanggapi ini, Humas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Yogi Ikhwan menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti hasil kajian tersebut.

“Kami terimakasih kepada para peneliti yang mau meneliti kualitas air laut, itu kan bagian dari pencemaran. Nanti kita dalami, kita telusuri di mana sumbernya dan akan membuat kebijakan-kebijakan untuk mengatasi pencemaran itu”, katanya. (Sabtu, 2/10/2021)

Yogi mengklaim DLH secara rutin melakukan pemantauan terhadap kualitas air laut Jakarta sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Peraturan yang merupakan ‘produk’ turunan Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja itu mengamanatkan pemantauan kualitas air laut secara berkala.

Dalam pasal 225 ayat (3) butir a dan b mengamanatkan pemantauan kualitas air laut sebanyak 2 kali dalam setahun dan pemantauan kerusakan ekosistem laut sebanyak 1 kali dalam setahun.

Pencemaran ini meningkatkan kekhawatiran terkait kesehatan dan kebersihan ekosistem laut, terutama berdampak pada ikan yang dikonsumsi masyarakat.

Mengutip Harvard Medical School, bahan kimia seperti obat dapat memiliki efek feminisasi pada ikan jantan dan mengubah rasio betina-jantan. Hanya saja, kandungan paracetamol di air laut bagi manusia masih belum bisa diketahui secara pasti.

“Kami akan perdalam hasil riset tersebut dan mencari sumbernya untuk menghentikan jika benar ada pencemaran parameter tersebut,” kata Yogi.

Kandungan obat-obatan di air laut, menurut Yogi, termasuk ke dalam parameter khusus yang jarang diteliti. Kendati demikian, temuan ini dapat dikategorikan sebagai pencemaran air laut. Oleh sebab itu, pihaknya membutuhkan pendalaman untuk menguji kualitas air laut di Teluk Jakarta.